Cuaca ekstrem masih menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemerintah Provinsi Sulsel mempertimbangkan opsi modifikasi cuaca demi memperlancar operasi pencarian dari udara.
Gubernur Sulsel Ajukan Permohonan ke BMKG
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman merespons positif opsi modifikasi cuaca dan menyatakan pihaknya akan segera mengajukan permohonan resmi kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BACA JUGA ; Situs Slot Online Diblokir, Polisi Selidiki Aliran Dana hingga Luar Negeri
“Memang ada kendala-kendala cuaca. Kita hari ini Insya Allah bersurat ke BMKG untuk melaksanakan modifikasi cuaca. Mudah-mudahan nanti bisa kita diberikan akses-akses lebih luas, terutama evakuasi dari udara,” ujar Andi Sudirman, Senin (20/1/2026).
Ia berharap langkah tersebut dapat meminimalkan gangguan hujan dan awan tebal yang selama ini membatasi visibilitas serta pergerakan helikopter SAR.
Medan Sulit, Jalur Darat Bisa Tembus Tiga Jam
Selain cuaca, medan pencarian yang berat juga menjadi hambatan serius. Andi Sudirman menyebutkan bahwa akses darat menuju lokasi kejadian membutuhkan waktu hingga tiga jam dengan kondisi jalur yang cukup ekstrem.
Meski demikian, operasi SAR gabungan tetap berjalan. Tim darat telah bergerak dan berhasil menemukan sejumlah bukti awal yang diyakini dapat menjadi petunjuk penting dalam proses pencarian.
“Kita ini evakuasi jalur darat sudah ada yang bergerak dan menemukan beberapa bukti-bukti yang bisa menjadi petunjuk,” katanya.
Untuk mempercepat proses, masyarakat setempat turut diberdayakan guna membantu tim SAR dengan informasi jalur alternatif di sekitar lokasi.
BMKG Siap Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca
Menanggapi permintaan Pemprov Sulsel, Pelaksana Tugas Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menyatakan kesiapan pihaknya melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mendukung kelancaran operasi SAR gabungan.
“Modifikasi cuaca ini supaya teman-teman bisa lihat, ini cuaca yang mungkin agak mengganggu operasi udara. Harapannya, di udara nanti bisa dimodifikasi sehingga tim udara bisa lebih maksimal,” jelas Nasrol.
BMKG juga telah menyiapkan pesawat khusus milik BKSSN yang akan diberangkatkan dari Semarang, Jawa Tengah, menuju Makassar untuk mendukung pelaksanaan OMC.
Cara Kerja OMC: Tabur CaO Kendalikan Hujan
Dalam operasi tersebut, BMKG akan menaburkan bahan tertentu seperti Kalsium Oksida (CaO) di area pencarian. Bahan ini berfungsi untuk mengendalikan curah hujan dan mengurangi potensi pembentukan awan hujan.
“Biasanya kalau untuk darat itu CaO kapur, untuk menghilangkan potensi awan-awan hujan. Jadi akan lebih menguap,” paparnya.
Dengan kondisi cuaca yang lebih terkendali, diharapkan operasi udara, termasuk pemantauan dan evakuasi menggunakan helikopter, dapat dilakukan secara optimal.
Basarnas Nilai OMC Krusial untuk Percepatan SAR
Sebelumnya, Kepala Basarnas RI Mohammad Syafii juga menegaskan bahwa modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi penting dalam membantu percepatan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500.
“Kondisi cuaca ini juga ekstrem dan telah kita koordinasikan. Mudah-mudahan bisa kita laksanakan OMC sehingga bisa membantu percepatan pelaksanaan operasi SAR,” ujarnya.
Hingga saat ini, operasi pencarian masih terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh potensi yang ada, baik dari udara maupun darat, sambil menunggu pelaksanaan modifikasi cuaca untuk mendukung kelancaran misi kemanusiaan tersebut.
