Evolusi kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) kerap dipandang sebagai pengulangan pola sejarah yang berakar pada abad ke-19. Saat ini, di bawah kepemimpinan Donald Trump, muncul istilah “Doktrin Donroe”—sebuah plesetan yang merujuk pada upaya membangkitkan kembali semangat Doktrin Monroe dalam konteks abad ke-21. Namun, untuk memahami ambisi masa kini, sejarah harus ditarik kembali ke lebih dari dua abad silam, saat James Monroe meletakkan fondasi pertama kedaulatan Amerika.
BACA JUGA : Eskalasi Militer di Arktik: NATO Kerahkan Pasukan ke Greenland, Rusia Tetapkan Status Siaga
Warisan James Monroe: Perlawanan terhadap Kolonialisme
Doktrin Monroe lahir dari pidato Presiden kelima AS, James Monroe, pada 2 Desember 1823. Sebagai tokoh terakhir dari generasi para pendiri bangsa (Founding Fathers) yang juga veteran Perang Kemerdekaan melawan Inggris, Monroe memiliki sensitivitas tinggi terhadap campur tangan asing.
Saat doktrin ini diumumkan, posisi geografis AS sangatlah rentan:
- Utara: Berbatasan langsung dengan Kanada yang masih merupakan basis kekuatan kolonial Inggris.
- Selatan: Berdampingan dengan Meksiko yang baru saja lepas dari kekuasaan Spanyol.
- Barat Laut: Menghadapi ancaman ekspansi Rusia di wilayah Alaska.
- Amerika Selatan: Menjadi saksi lahirnya negara-negara baru yang sedang berjuang mempertahankan republik dari ancaman re-kolonisasi monarki Eropa.
John Quincy Adams, Menteri Luar Negeri saat itu, meyakini bahwa jika kekuatan Eropa dibiarkan menekan gerakan republik di belahan bumi barat, maka Amerika Serikat akan terisolasi dan rentan terhadap invasi. Doktrin Monroe kemudian menetapkan garis tegas: Benua Amerika bukan lagi objek kolonisasi di masa depan oleh kekuatan Eropa mana pun.
Ekspansi Wilayah: Fondasi Bangsa Superpower
Kepercayaan diri AS untuk menantang kekuatan Eropa tidak muncul begitu saja, melainkan didukung oleh ekspansi wilayah yang sangat pesat. Sebelum Doktrin Monroe dicetuskan, AS telah melakukan dua langkah strategis besar:
- Pembelian Louisiana (1803): Di bawah pemerintahan Thomas Jefferson, AS membeli koloni Louisiana dari Napoleon Bonaparte seharga 15 juta dollar AS. Transaksi ini tidak hanya menggandakan luas wilayah AS dalam semalam, tetapi juga mengakhiri pengaruh Perancis di Amerika Utara dan membuka jalan bagi ekspansi ke arah barat hingga Samudra Pasifik.
- Akuisisi Florida (1819): Melalui kesepakatan dengan Spanyol, AS berhasil mengambil alih Florida, memperkuat kendali mereka atas pesisir tenggara dan Teluk Meksiko.
Transformasi Menjadi “Doktrin Donroe” di Era Trump
Pada era modern, konsep “Amerika untuk Orang Amerika” yang menjadi inti Doktrin Monroe mengalami metamorfosis di tangan Donald Trump menjadi “America First”. Jika Monroe ingin melindungi benua dari kolonialisme Eropa, ambisi Trump saat ini meluas menjadi perlindungan kepentingan ekonomi dan keamanan AS dari pengaruh global, terutama dominasi China dan Rusia.
Beberapa poin perkembangan dari Monroe ke “Donroe” meliputi:
- Hegemoni Ekonomi: Penggunaan tarif dan proteksionisme sebagai alat untuk memaksa negara lain mengikuti kemauan Washington, serupa dengan upaya Monroe menutup akses kekuatan Eropa.
- Ambisi Teritorial Baru: Minat Trump terhadap Greenland menunjukkan kembalinya pola pikir “pembelian wilayah” seperti era Louisiana, yang didorong oleh kebutuhan akan mineral kritis dan kontrol keamanan di wilayah Arktik.
- Intervensi Regional: Penegasan kembali dominasi di Amerika Latin untuk membendung pengaruh ekonomi China dipandang sebagai bentuk pembaruan Doktrin Monroe yang kini diaplikasikan untuk mengeksklusi rivalitas Timur.
Kesimpulan: Kontinuitas dalam Perubahan
Meskipun dipisahkan oleh dua abad, ada benang merah yang kuat antara James Monroe dan Donald Trump: keyakinan bahwa Amerika Serikat memiliki hak khusus untuk menentukan nasib wilayah sekitarnya tanpa campur tangan kekuatan luar. Dari pengusiran monarki Eropa hingga penentangan terhadap pengaruh global China, kebijakan luar negeri AS tetap berpijak pada satu prinsip utama, yakni mempertahankan dominasi absolut di bawah bendera kedaulatan nasional yang tak tergoyahkan.
