Rencana perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), membawa secercah harapan sekaligus keraguan besar bagi warga di Teheran. Di tengah upaya diplomatik untuk mengubah gencatan senjata sementara menjadi perdamaian yang lebih permanen, masyarakat sipil Iran justru terjebak dalam pusaran skeptisisme. Mereka merasa berada di titik nadir, terhimpit di antara ancaman destruktif dari luar dan sistem pemerintahan domestik yang kian represif pascakonflik.
BACA JUGA : Stagnasi Arus Logistik di Selat Hormuz: Volume Pelayaran Masih 90 Persen di Bawah Normal
Skeptisisme Terhadap Meja Diplomasi
Bagi banyak warga Teheran, meja negosiasi dianggap bukan jaminan keamanan jangka panjang. Pesimisme ini berakar dari pengalaman sejarah dan retorika keras yang terus bergulir. Sebagaimana dilaporkan oleh AFP, warga merasa skeptis bahwa kesepakatan yang melibatkan figur seperti Presiden Donald Trump—yang sebelumnya melontarkan ancaman terhadap eksistensi peradaban Iran—dapat menghasilkan stabilitas yang tulus.
Amir, seorang seniman berusia 40 tahun, menyatakan keraguannya terhadap daya tahan kesepakatan tersebut. Menurutnya, narasi kemenangan yang terus didengungkan oleh mesin propaganda pemerintah sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu justru menjadi penghambat perdamaian. Penguatan posisi Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui klaim-klaim heroik dinilai telah menciptakan ekosistem politik yang sulit menerima kompromi internasional. Ada kekhawatiran bahwa struktur kekuasaan saat ini lebih memahami bahasa konfrontasi dibandingkan bahasa rekonsiliasi.
Beban Ekonomi dan Psikologis yang Menumpuk
Di luar isu kedaulatan dan diplomasi tingkat tinggi, warga sipil harus menghadapi realitas ekonomi yang hancur akibat perang. Gencatan senjata yang saat ini berlaku tidak lantas menghilangkan kecemasan, melainkan hanya mengubah prioritas kekhawatiran mereka.
Sheida, seorang warga berusia 38 tahun, menggambarkan kondisi psikologis masyarakat yang sangat lelah. Fokus warga saat ini terpecah antara mengamankan kebutuhan dasar dan membereskan urusan finansial yang terbengkalai selama periode serangan udara. Momentum gencatan senjata dimanfaatkan masyarakat untuk melunasi utang-utang yang menumpuk dan menata kembali sisa-sisa usaha yang terdampak konflik.
Kecemasan ini diperparah dengan tidak adanya pilihan ideal bagi masa depan mereka. Warga merasa dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama memberatkan:
- Risiko Eksternal: Ketakutan akan kembalinya serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dapat melumpuhkan infrastruktur sipil secara total.
- Krisis Internal: Bertahannya sistem pemerintahan dan tekanan ekonomi yang telah memarginalkan hak-hak sipil serta kesejahteraan mereka bahkan sebelum perang dimulai.
Antara Harapan dan Ketidakpastian
Perundingan di Islamabad memang menjadi langkah maju secara diplomatik, namun bagi penduduk di Teheran, perdamaian bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Mereka menanti adanya perubahan nyata yang mampu menjamin keamanan fisik sekaligus pemulihan ekonomi tanpa diskriminasi.
Ketidakpastian ini menciptakan suasana kota yang tegang namun pasrah. Warga berharap agar para negosiator di Pakistan tidak hanya memikirkan kepentingan strategis di Selat Hormuz, tetapi juga mempertimbangkan nasib jutaan warga sipil yang terus hidup di bawah bayang-bayang bom dan penindasan sistemik. Tanpa adanya solusi yang menyentuh akar permasalahan kemanusiaan, gencatan senjata ini hanya akan dipandang sebagai masa tenang yang singkat sebelum badai berikutnya datang.
