Diplomasi Ekonomi di Washington: Indonesia Incar Penurunan Tarif Ekspor ke AS Menjadi 18 Persen

Diplomasi Ekonomi di Washington: Indonesia Incar Penurunan Tarif Ekspor ke AS Menjadi 18 Persen

WASHINGTON DC – Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan penguatan posisi dagang di pasar Amerika Serikat melalui negosiasi penurunan tarif ekspor. Dalam kunjungan resminya ke Washington pekan ini, Presiden Prabowo Subianto menargetkan kesepakatan tarif baru yang lebih kompetitif guna mendorong performa ekspor nasional ke Negeri Paman Sam tersebut.

BACA JUGA : Alarm Global: Menakar Validitas Kekhawatiran Publik Amerika Terhadap Potensi Perang Dunia III

1. Target Penurunan Tarif dan Komparasi Global

Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa fokus utama dalam negosiasi perdagangan kali ini adalah menekan tarif ekspor hingga menyentuh angka 18 persen. Target ini didasarkan pada referensi kebijakan tarif yang telah diberikan AS kepada beberapa negara mitra strategis lainnya.

Sebagai catatan, Indonesia telah mencatatkan progres signifikan dalam setahun terakhir. Sebelumnya, produk ekspor Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen, yang kemudian berhasil dipangkas menjadi 19 persen melalui kesepakatan tahun lalu. Penurunan satu persen poin tambahan menjadi 18 persen dinilai akan memberikan dampak efisiensi biaya yang besar bagi eksportir domestik.

“Kami melihat negara lain ada yang tarifnya diturunkan menjadi 18 persen. Tentu kita memiliki aspirasi yang sama. Namun, keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan otoritas Amerika Serikat,” jelas Prasetyo kepada pers pada Rabu, 18 Februari 2026.


2. Agenda Strategis: Forum Board of Peace dan Pertemuan Bilateral

Kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat kali ini mengusung agenda ganda, yakni diplomasi perdamaian dan penguatan ekonomi:

  • Dewan Perdamaian (Board of Peace): Presiden Prabowo menghadiri pertemuan perdana para pemimpin dunia dalam forum yang digagas oleh Presiden Donald Trump. Kehadiran Indonesia di forum ini menegaskan peran Jakarta sebagai aktor kunci dalam stabilitas global.
  • Perjanjian Perdagangan Baru: Agenda utama lainnya adalah penandatanganan kesepakatan dagang yang diharapkan mampu membuka akses pasar lebih luas bagi komoditas unggulan Indonesia.
  • Dialog Ekonomi: Presiden juga dijadwalkan menghadiri forum ekonomi yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang AS (US Chamber of Commerce) untuk berinteraksi langsung dengan para investor potensial.

3. Faktor Relasi Personal dalam Kebijakan Luar Negeri

Pihak Istana meyakini bahwa hubungan personal yang solid antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump dapat menjadi katalisator bagi perubahan kebijakan perdagangan Washington terhadap Jakarta. Pendekatan “diplomasi antar-pemimpin” ini diharapkan mampu mencairkan hambatan birokrasi dan regulasi yang selama ini membatasi aliran barang antar kedua negara.

Sekretaris Kabinet dalam keterangan terpisah menambahkan bahwa fokus pertemuan bilateral antara kedua kepala negara akan berpusat pada peningkatan kerja sama strategis yang saling menguntungkan (win-win solution), terutama di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Optimisme Pertumbuhan Ekspor

Jika target tarif 18 persen ini tercapai, sektor manufaktur dan komoditas Indonesia diprediksi akan mendapatkan keunggulan kompetitif dibandingkan negara kompetitor di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk menjadikan ekspor sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.

More From Author

Alarm Global: Menakar Validitas Kekhawatiran Publik Amerika Terhadap Potensi Perang Dunia III

Alarm Global: Menakar Validitas Kekhawatiran Publik Amerika Terhadap Potensi Perang Dunia III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *