TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan keras dan langsung terhadap Amerika Serikat (AS) pada Rabu (21/1/2026). Teheran menegaskan kesiapannya untuk melancarkan serangan balasan total apabila kedaulatan mereka kembali diganggu. Pernyataan ini muncul di tengah mobilisasi armada militer AS ke wilayah Timur Tengah dan dinamika politik domestik Iran yang masih bergejolak.
BACA JUGA : Insiden Penangkapan Salah Sasaran: Agen ICE Dobrak Rumah Warga Negara AS di Minnesota
Menanggalkan Kebijakan Menahan Diri
Melalui artikel opini yang diterbitkan di The Wall Street Journal, Araghchi menggarisbawahi perubahan sikap strategis negaranya pasca-konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Ia menekankan bahwa periode “menahan diri” yang sebelumnya ditunjukkan Iran kini telah berakhir.
“Angkatan bersenjata kami tidak akan ragu untuk membalas dengan seluruh kekuatan yang kami miliki jika kembali diserang,” tulis Araghchi. Diplomat senior tersebut menegaskan bahwa pernyataannya bukanlah gertakan semata, melainkan sebuah realitas objektif yang perlu dipahami secara eksplisit oleh komunitas internasional guna menghindari miskalkulasi militer.
Dampak Global dan Konfrontasi Jangka Panjang
Araghchi, yang baru-baru ini batal menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, memprediksi bahwa pecahnya perang kali ini akan jauh lebih ganas dan melampaui estimasi waktu yang direncanakan oleh pihak lawan.
Ia mengkritik narasi “perang singkat” yang sering dipromosikan oleh pihak Israel dan sekutunya kepada Gedung Putih sebagai sebuah fantasi yang menyesatkan. Menurutnya, konflik habis-habisan di kawasan tersebut secara otomatis akan meluas dan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi serta keamanan masyarakat sipil di seluruh dunia.
Kekuatan Militer dan Langkah Antisipasi AS
Pengamat militer menilai bahwa peringatan Araghchi merujuk pada kesiapan persediaan rudal jarak pendek dan menengah Iran yang sangat besar. Berbeda dengan konfrontasi sebelumnya yang didominasi oleh rudal balistik jarak jauh ke arah Israel, stok rudal jarak pendek Iran dapat digunakan untuk mengincar pangkalan militer dan kepentingan strategis AS di sepanjang Teluk Persia.
Menanggapi situasi yang kian genting, pemerintah Amerika Serikat telah mengambil sejumlah langkah preventif:
- Pembatasan Perjalanan: Diplomat AS dilarang melakukan perjalanan ke pangkalan militer di Kuwait dan Qatar kecuali untuk urusan darurat.
- Pergerakan Armada: Gugus tempur kapal induk AS dilaporkan telah diperintahkan bergerak dari perairan Asia menuju kawasan Timur Tengah sebagai bentuk unjuk kekuatan (power projection).
Konteks Geopolitik
Ketegangan ini memperlihatkan rapuhnya stabilitas keamanan di Timur Tengah setelah konflik tahun lalu. Dengan posisi Iran yang semakin defensif namun provokatif, serta kehadiran militer AS yang semakin intensif, risiko gesekan fisik di lapangan kini berada pada level tertinggi sejak awal tahun 2026. Dunia internasional kini menanti apakah jalur komunikasi diplomatik masih bisa terbuka di tengah retorika perang yang kian memanas.
