Insiden Penangkapan Salah Sasaran: Agen ICE Dobrak Rumah Warga Negara AS di Minnesota

Insiden Penangkapan Salah Sasaran: Agen ICE Dobrak Rumah Warga Negara AS di Minnesota

SAINT PAUL – Gelombang kekhawatiran atas wewenang aparat federal Amerika Serikat kembali mencuat setelah insiden traumatis menimpa ChongLy Thao (56), seorang warga negara AS di Minnesota. Petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dilaporkan melakukan penerobosan paksa ke kediaman Thao, menyeretnya ke tengah cuaca ekstrem dalam kondisi hampir telanjang, sebelum akhirnya membebaskannya tanpa penjelasan resmi.

BACA JUGA : Diplomasi dan Keamanan: Inggris Berikan Izin Pembangunan Kedutaan Besar China di London

Kronologi Kejadian di Tengah Suhu Beku

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (18/1/2026) di kota Saint Paul, saat suhu udara mencapai minus 10 derajat Celsius. Thao, yang akrab disapa Scott, sedang berada di dalam rumah bersama keluarganya ketika petugas ICE dengan senjata terhunus mendobrak pintu masuk.

Dalam kondisi bingung dan ketakutan, Thao diborgol dan dipaksa keluar rumah hanya dengan mengenakan celana pendek boxer dan sandal. Petugas dilaporkan menolak memberikan kesempatan kepada Thao untuk mengenakan pakaian yang layak sebelum membawanya ke area terbuka yang tertutup salju. Satu-satunya pelindung suhu yang ia miliki adalah selimut kecil milik cucunya yang diambil secara terburu-buru.

Status Kewarganegaraan dan Latar Belakang

Insiden ini memicu kecaman publik karena status hukum Thao yang jelas. Pria asal etnis Hmong ini pindah dari Laos ke Amerika Serikat pada tahun 1974 saat berusia empat tahun dan telah resmi menjadi warga negara AS melalui proses naturalisasi sejak tahun 1991.

“Saya sedang berdoa dan bertanya kepada Tuhan, apa kesalahan saya? Mengapa mereka melakukan ini kepada saya dalam kondisi tanpa pakaian?” ujar Thao dalam wawancaranya dengan Reuters. Ia mengaku sangat mengkhawatirkan kemungkinan deportasi ke negara asal di mana ia sudah tidak memiliki kerabat sama sekali.

Kritik terhadap Tindakan Keras Imigrasi

Dokumentasi foto yang menunjukkan kondisi Thao yang menggigil di bawah pengawalan bersenjata telah beredar luas di media sosial. Hal ini memicu perdebatan mengenai prosedur operasi standar (SOP) penegak hukum federal di bawah kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump, yang saat ini telah mengerahkan sekitar 3.000 petugas di wilayah Minneapolis.

Pihak keluarga melalui pernyataan resminya mengecam tindakan tersebut sebagai aksi yang:

  • Tidak perlu: Mengingat Thao adalah warga negara sah dan tidak melakukan perlawanan.
  • Merendahkan martabat: Memaksa seseorang berada di ruang publik dalam kondisi tidak berpakaian layak.
  • Traumatis: Memberikan dampak psikologis mendalam bagi anggota keluarga, termasuk anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut.

Pembebasan Tanpa Penjelasan

Thao akhirnya dipulangkan ke kediamannya pada Minggu malam tanpa mendapatkan penjelasan mendalam mengenai alasan penangkapannya, maupun permintaan maaf dari otoritas terkait. Hingga saat ini, pihak ICE belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan adanya kesalahan identitas atau kegagalan administratif dalam operasi tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan para aktivis hak asasi manusia yang menilai bahwa tindakan agresif aparat di lapangan berisiko melanggar hak-hak sipil warga negara Amerika Serikat sendiri dalam upaya penegakan hukum imigrasi yang kian ketat.

More From Author

Diplomasi dan Keamanan: Inggris Berikan Izin Pembangunan Kedutaan Besar China di London

Diplomasi dan Keamanan: Inggris Berikan Izin Pembangunan Kedutaan Besar China di London

Eskalasi di Timur Tengah: Menteri Luar Negeri Iran Peringatkan AS Terkait Risiko Perang Berkepanjangan

Eskalasi di Timur Tengah: Menteri Luar Negeri Iran Peringatkan AS Terkait Risiko Perang Berkepanjangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *