TEHERAN – Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis seiring dengan pengumuman status siaga tinggi oleh pemerintah Iran. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap pergerakan besar-besaran armada tempur Amerika Serikat yang menuju kawasan tersebut. Teheran menegaskan bahwa segala bentuk agresi, sekecil apa pun, akan dianggap sebagai deklarasi perang total.
BACA JUGA : Urgensi Peran Indonesia dalam Memastikan Kedaulatan Warga Gaza di Tengah Proyek Rekonstruksi
Doktrin Perang Habis-Habisan Iran
Seorang pejabat senior Iran, dalam keterangannya kepada media pada Sabtu (24/1/2026), menyatakan bahwa militer Republik Islam tersebut telah mempersiapkan skenario terburuk. Pihak Teheran memberikan peringatan keras bahwa mereka tidak akan lagi membedakan antara serangan terbatas atau serangan kinetik terarah.
“Setiap bentuk serangan, dengan sebutan apa pun, akan kami maknai sebagai perang habis-habisan melawan kedaulatan kami. Iran akan merespons dengan kekuatan maksimum untuk menyelesaikan konfrontasi ini secara tuntas,” tegas pejabat tersebut yang berbicara dengan syarat anonim. Meski tidak merinci teknis balasan yang disiapkan, ia menekankan pentingnya pemulihan keseimbangan kekuatan terhadap pihak mana pun yang mencoba melanggar integritas teritorial Iran.
Pengerahan Gugus Tempur Kapal Induk AS
Ketegangan ini dipicu oleh kebijakan Pentagon yang memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak pendamping untuk segera memasuki wilayah Teluk. Armada ini dilaporkan telah melintasi Samudra Hindia setelah meninggalkan Laut China Selatan awal pekan ini.
Gugus tempur kapal induk tersebut dijadwalkan bergabung dengan:
- Tiga kapal tempur yang telah bersandar di pelabuhan Bahrain.
- Dua kapal perusak AS yang saat ini tengah beroperasi di perairan Teluk Persia.
- Pangkalan militer strategis Al Udeid di Qatar sebagai markas komando terdepan.
Kedatangan armada ini diperkirakan akan menambah sekitar 5.700 personel militer tambahan ke kawasan yang sudah sangat bergejolak.
Peringatan dari Gedung Putih
Presiden Donald Trump mengonfirmasi pergerakan armada tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran. Trump memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan program nuklirnya serta menghentikan tindakan represif terhadap demonstran di dalam negeri. Walaupun menunjukkan kekuatan militer yang masif, Trump menyatakan harapannya agar kekuatan tersebut tidak perlu digunakan dalam konfrontasi fisik secara langsung.
Latar Belakang Konflik dan Risiko Kawasan
Situasi saat ini merupakan kelanjutan dari sejarah panjang ketegangan kedua negara. Pada tahun 2025, AS tercatat melakukan pengerahan militer serupa sebelum terlibat dalam dinamika konflik regional bersama Israel. Ketegangan semakin diperparah oleh preseden serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 silam.
Kawasan Timur Tengah kini berada dalam bayang-bayang konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas energi dunia dan keamanan global. Analis militer menilai bahwa penumpukan kekuatan di kedua belah pihak meningkatkan risiko salah kalkulasi yang bisa memicu perang regional berskala besar secara mendadak.
