Transformasi Eks Narapidana Terorisme: Dari Senjata ke Cangkul demi Ketahanan Pangan

Transformasi Eks Narapidana Terorisme: Dari Senjata ke Cangkul demi Ketahanan Pangan

SUBANG — Sebuah transformasi sosial yang signifikan tengah berlangsung di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sejumlah mantan narapidana terorisme (eks napiter) yang dulunya terafiliasi dengan jaringan radikal kini beralih profesi menjadi petani kelapa sawit dan komoditas pangan lainnya. Langkah ini menandai babak baru dalam program deradikalisasi yang berbasis pada pemberdayaan ekonomi dan reintegrasi sosial.

BACA JUGA : Eskalasi di Teluk: Pesawat Militer AS Ditembak Jatuh di Kuwait Saat Iran Perluas Serangan Balasan

Profil dan Rekam Jejak Masa Lalu

Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Jawa Barat Densus 88 Anti Teror, Kombes Pol Bogiek Sugiyarto, mengungkapkan bahwa mereka yang kini menggarap lahan di Subang memiliki rekam jejak yang kelam dalam sejarah terorisme di Indonesia. Beberapa di antaranya meliputi:

  • DS: Mantan anggota kelompok Bom Thamrin yang memiliki keahlian sebagai perakit bahan peledak.
  • RS: Pelaku aksi bom mobil di Bandung.
  • IM: Sosok yang berperan sebagai fasilitator penyeberangan WNI untuk bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf.
  • FRR: Mantan simpatisan jaringan teror yang kini telah berikrar setia kepada NKRI.

Kombes Pol Bogiek menyatakan pada Rabu (4/3/2026) bahwa keterlibatan mereka dalam sektor pertanian merupakan upaya untuk mengubah stigma negatif menjadi kontribusi nyata bagi stabilitas sosial dan ketahanan pangan nasional.

Pendekatan Sosiologis: Membangun Identitas Baru

Transformasi ini bukan sekadar peralihan profesi, melainkan proses “resosialisasi” yang mendalam. Mengutip teori sosiolog Erving Goffman dalam karyanya Asylums (1961), Bogiek menjelaskan bahwa terjunnya eks napiter ke dunia pertanian adalah upaya membangun identitas baru di lingkungan sosial yang berbeda drastis dari masa lalu mereka.

Proses ini melibatkan:

  1. Pemisahan dari Lingkungan Lama: Memutus rantai komunikasi dengan jaringan radikal.
  2. Penerimaan Sosial: Kolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat lokal di Subang agar para eks napiter tidak lagi dipandang sebagai sosok yang menakutkan.
  3. Pendampingan Berkelanjutan: Memberikan ruang bagi mereka untuk merasa memiliki peran di tengah komunitas.

Ekonomi sebagai Penangkal Ekstremisme

Secara teoritis, langkah ini didukung oleh perspektif Robert K. Merton (1938) mengenai struktur sosial dan anomi. Merton menyebutkan bahwa akses terhadap peluang ekonomi yang legal akan mengurangi tekanan sosial ekonomi yang seringkali menjadi pemicu tindakan ekstrem.

“Dari total 1.397 eks napiter di Indonesia, baru sebagian kecil yang menyentuh sektor pertanian sebagai media pemberdayaan. Padahal, pertanian bersifat inklusif dan mampu memberikan nilai ekonomi berkelanjutan bagi mereka yang sering kesulitan mencari kerja di sektor formal karena latar belakang hukumnya,” tegas Bogiek.

Sinergi dan Keberlanjutan

Keberhasilan program di Subang ini diharapkan menjadi purwarupa (prototype) bagi daerah lain. Fokus deradikalisasi kini tidak hanya berhenti pada dialog ideologi di balik jeruji besi, tetapi berlanjut pada kemandirian ekonomi di lapangan. Dengan menggandeng sektor swasta, para eks napiter diberikan akses lahan dan pasar, sehingga potensi kembali ke jaringan lama akibat himpitan ekonomi dapat diminimalisir.

Kisah dari Subang ini membuktikan bahwa perubahan identitas dari sosok yang destruktif menjadi produktif adalah hal yang sangat mungkin dicapai melalui kombinasi antara pembinaan mental, dukungan ekonomi, dan keterbukaan masyarakat.

More From Author

Eskalasi di Teluk: Pesawat Militer AS Ditembak Jatuh di Kuwait Saat Iran Perluas Serangan Balasan

Eskalasi di Teluk: Pesawat Militer AS Ditembak Jatuh di Kuwait Saat Iran Perluas Serangan Balasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *