Meskipun Amerika Serikat (AS) telah menerapkan blokade angkatan laut yang ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, laporan terbaru menunjukkan bahwa aliran energi dari negara tersebut belum sepenuhnya terhenti. Vortexa, perusahaan analitik global yang berfokus pada pasar energi dan pelacakan kargo laut, mengungkapkan adanya aktivitas pengapalan minyak dalam jumlah besar yang berhasil menembus pengawasan armada perang AS.
BACA JUGA : Dualisme Kekuasaan di Teheran: Drama Buka-Tutup Selat Hormuz dan Tantangan Diplomasi
Data Pergerakan Kapal Tanker
Berdasarkan data pemantauan satelit dan analitik maritim, Vortexa mengidentifikasi setidaknya 34 pergerakan kapal tanker yang terhubung dengan Iran dan masuk dalam daftar sanksi internasional. Pergerakan ini tercatat terjadi dalam periode kritis antara 13 April hingga Senin, 20 April 2026.
Rincian aktivitas tersebut meliputi:
- 19 pergerakan keluar: Kapal tanker yang meninggalkan pelabuhan atau wilayah perairan Iran menuju laut lepas.
- 15 pergerakan masuk: Kapal yang kembali menuju fasilitas pelabuhan Iran.
Dari total pergerakan tersebut, Vortexa mengonfirmasi bahwa enam kapal tanker membawa muatan minyak mentah Iran dengan volume total mencapai 10,7 juta barel. Meskipun volume ini sangat signifikan, para analis belum dapat memastikan apakah seluruh muatan tersebut berhasil mencapai pembeli di pasar luar negeri atau hanya berpindah posisi ke titik penyimpanan terapung.
Kontradiksi Klaim: Laporan Intelijen vs Komando Militer AS
Terdapat perbedaan pernyataan yang mencolok antara pengamat pasar energi dengan otoritas militer Amerika Serikat. Komando Pusat AS (Centcom) secara konsisten membantah adanya kebocoran dalam operasi blokade mereka.
[Table: Perbandingan Laporan Operasional Blokade]
| Aspek | Laporan Vortexa (Analitik) | Laporan Centcom (Militer) |
|---|---|---|
| Identifikasi Kapal | 34 pergerakan kapal tanker terkait Iran | Menindak 31 kapal yang patuh pada perintah |
| Volume Minyak | Estimasi 10,7 juta barel keluar | Mengklaim tidak ada kebocoran signifikan |
| Insiden Fisik | Deteksi kargo melalui data satelit | Penindakan keras terhadap kapal Touska |
Pihak militer AS melalui laporan yang dikutip The Wall Street Journal menegaskan bahwa pasukan mereka telah mencegat dan memerintahkan 31 kapal untuk mematuhi aturan blokade. Menurut versi militer, sejauh ini hanya kapal Touska yang secara terang-terangan mengabaikan peringatan dan harus menghadapi penindakan fisik berupa tembakan ke ruang mesin dan penggeledahan oleh personel Marinir.
Strategi “Armada Gelap” Iran
Para ahli energi berpendapat bahwa Iran kemungkinan menggunakan taktik “armada gelap” (ghost armada) untuk mengelabui blokade. Taktik ini melibatkan pembersihan sistem identifikasi otomatis (AIS), transfer muatan dari kapal ke kapal (ship-to-ship transfer) di tengah laut, serta penggunaan dokumen muatan palsu untuk menyamarkan asal-usul minyak mentah tersebut.
Keberhasilan Iran dalam mengeluarkan 10 juta barel minyak di tengah kehadiran armada perusak AS seperti USS Spruance menunjukkan adanya celah dalam strategi blokade maritim. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Donald Trump yang berambisi menekan pendapatan minyak Iran hingga ke titik nol guna memaksa Teheran menyepakati perjanjian nuklir yang baru.
Situasi ini diperkirakan akan memicu perdebatan di Washington mengenai perlunya peningkatan jumlah armada tempur atau penerapan aturan keterlibatan (rules of engagement) yang lebih agresif terhadap kapal-kapal tanker yang terdeteksi melanggar wilayah blokade.
