WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (9/6/2026) secara terbuka mengeklaim bahwa proses negosiasi bilateral untuk mengakhiri eskalasi konflik dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan optimistis ini disampaikan hanya berselang dua hari setelah Iran dan Israel menghentikan rangkaian serangan udara saling balas yang sempat mengancam stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Konfrontasi bersenjata terakhir dipicu oleh tindakan Iran yang meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026), sebagai respons atas operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Beirut, Lebanon. Israel kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Iran, meskipun Donald Trump dilaporkan telah berupaya keras membujuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari tindakan ofensif tersebut.
Meskipun kedua belah pihak di Timur Tengah sempat memperingatkan bahwa mereka siap melanjutkan permusuhan secara terbuka, Trump menegaskan bahwa intervensi diplomatik Washington berhasil meredam situasi di lapangan.
“Iran dan Israel sempat terlibat perdebatan panjang lebar, dan sekarang mereka berdua telah sepakat melalui mediasi saya untuk menghentikan permusuhan. Kita saat ini berada di tahap akhir dari perumusan kesepakatan yang akan berdampak sangat baik bagi semua pihak,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari laporan AFP.
BACA JUGA : AS Masukkan Puluhan Raksasa Teknologi China ke Daftar Hitam, Beijing Siapkan Langkah Balasan
Target Poin Kesepakatan: Denuklirisasi dan Jalur Maritim
Ketika dikonfirmasi oleh awak media mengenai linimasa penandatanganan dokumen diplomatik tersebut, Trump memproyeksikan bahwa kesepakatan formal akan tercapai dalam kurun waktu dua hingga tiga hari ke depan.
Menurut penjelasan sang Presiden, draf perjanjian komprehensif tersebut memuat dua klausul krusial:
- Penghapusan Senjata Nuklir: Komitmen penuh dari pihak Teheran untuk menghentikan dan melenyapkan seluruh program pengembangan senjata nuklir mereka.
- Pembukaan Selat Hormuz: Jaminan keamanan dan pembukaan kembali jalur pelayaran maritim internasional di Selat Hormuz guna menjaga kelancaran pasokan energi global.
Trump juga menegaskan bahwa dengan tercapainya kesepakatan ini, Amerika Serikat kemungkinan besar tidak perlu lagi mengambil opsi serangan militer langsung ke wilayah Iran, meskipun ia mengklaim bahwa Pentagon memiliki kapabilitas penuh untuk melakukannya dengan mudah kapan saja.
Strategi Blokade Ekonomi Dinilai Lebih Efektif Dibanding Pengeboman
Menukil laporan dari Al Jazeera, Trump menjelaskan pergeseran doktrin keamanan luar negerinya yang kini lebih mengutamakan tekanan ekonomi terstruktur daripada konfrontasi fisik yang destruktif. Bagi Washington, metode isolasi finansial terbukti memberikan dampak yang jauh lebih masif bagi internal Iran.
“Jika kita mengambil opsi pengeboman, akan ada banyak korban jiwa yang berjatuhan. Siapa yang menginginkan skenario itu? Saya tidak menginginkannya. Melalui jalur ini, kita akan memiliki dokumen resmi yang ditandatangani, di mana kekuatannya secara hukum dan politis jauh lebih kuat daripada sekadar melakukan aksi pengeboman,” urai Trump.
Ia menambahkan bahwa kombinasi antara operasi penyerangan awal di beberapa titik strategis yang diikuti oleh penerapan blokade ekonomi total telah melumpuhkan aktivitas domestik Iran. Mengingat kondisi perekonomian Teheran yang saat ini mengalami tekanan dan penderitaan yang cukup berat, Trump meyakini bahwa jajaran pemerintahan Iran tidak memiliki pilihan lain selain tunduk pada klausul perjanjian dan merampungkan kesepakatan damai ini dalam waktu dekat.
