Hubungan diplomatik antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan mengalami ketegangan serius terkait strategi penyelesaian konflik bersenjata melawan Iran. Situasi ini menandai titik balik yang drastis dibandingkan dengan kondisi tiga bulan lalu, di mana kedua pemimpin menunjukkan keselarasan penuh saat bersama-sama melancarkan serangan udara masif ke wilayah Iran yang memicu eskalasi perang regional.
Berdasarkan laporan investigasi dari The Wall Street Journal, Trump dan Netanyahu kini berada pada posisi yang saling bertolak belakang dalam menentukan jalan keluar (exit strategi) dari pusaran konflik tersebut.
Visi Diplomatik Donald Trump: Stabilitas Ekonomi dan Selat Hormuz
Donald Trump saat ini memprioritaskan tercapainya kesepakatan diplomatik komprehensif dengan Teheran. Beberapa motif utama yang melandasi langkah pragmatis Trump antara lain:
- Pemulihan Jalur Logistik Energi: Trump mendambakan kesepakatan yang dapat segera membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara penuh guna menstabilkan pasokan minyak dunia.
- Dinamika Ekonomi dan Politik Domestik: Langkah ini diambil demi meredam lonjakan harga energi global yang kian melambung akibat perang, yang dinilai mulai memecah belah serta menggerus basis dukungan politiknya di dalam negeri Amerika Serikat.
- Denuklirisasi Iran: Target utama diplomasi Trump adalah mengeliminasi cadangan uranium yang telah diperkaya oleh Iran guna memastikan Teheran tidak memiliki kapabilitas senjata nuklir.
Posisi Benjamin Netanyahu: Tekanan Domestik dan Operasi Militer
Sebaliknya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi realitas politik dalam negeri yang sangat kontras. Netanyahu berada di bawah tekanan domestik yang sangat kuat dari faksi-faksi politik dan publik Israel untuk tidak mengendurkan serangan.
Netanyahu dituntut untuk terus mengintensifkan operasi militer secara agresif guna melumpuhkan Hizbullah di Lebanon, yang merupakan proksi paling krusial dan persenjataan utama jaringan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. Bagi Israel, menghentikan perang tanpa melumpuhkan kekuatan militer Hizbullah di perbatasan utara dianggap sebagai sebuah ancaman keamanan jangka panjang yang tidak dapat diterima.
Konflik Lebanon dan Gencatan Senjata yang Rapuh
Ketegangan terbuka antara kedua pemimpin ini mulai mencuat ke permukaan dalam sepekan terakhir, dipicu oleh dinamika pertempuran di Lebanon. Pihak Teheran sendiri secara tegas menetapkan syarat bahwa pembicaraan diplomasi yang lebih luas dengan Washington hanya akan dimulai jika militer Israel menghentikan agresinya terhadap Hizbullah.
Melalui serangkaian pertemuan diplomatik yang intensif, sebuah kesepakatan awal yang cenderung rapuh akhirnya berhasil dicapai:
- Hizbullah menyatakan bersedia menghentikan seluruh serangan roket dan artileri ke wilayah Israel.
- Israel sepakat untuk menahan diri dan tidak melancarkan serangan udara ke Beirut, ibu kota Lebanon.
Kendati kesepakatan di ibu kota tercapai, implementasi di lapangan masih jauh dari kata damai. Laporan intelijen menunjukkan bahwa pertempuran bersenjata skala besar di wilayah luar Beirut masih terus berkobar hingga Selasa (2/6/2026).
Ekskalasi di Ruang Situasi Gedung Putih
Akar perselisihan langsung antara Trump dan Netanyahu terjadi pada Jumat (29/5/2026). Dalam sebuah momen krusial, Trump mengumpulkan para penasihat keamanan dan pejabat tinggi militernya di Ruang Situasi (Situation Room) Gedung Putih.
Pertemuan darurat tersebut mendiskusikan proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran. Proposal dari Teheran ini dinilai jauh lebih kuat dan progresif karena memuat jaminan tertulis bahwa Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata pemusnah massal, disertai skema kejelasan mengenai pembuangan seluruh material uranium yang telah mereka perkaya.
Keputusan Trump yang cenderung menyambut baik proposal Iran inilah yang memicu panggilan telepon tegang dengan Netanyahu, mempertegas jurang pemisah antara ambisi diplomasi Amerika Serikat dan kepentingan pertahanan absolut Israel.
