Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel mengenai strategi akhir perang kini menjadi celah geopolitik yang dieksploitasi secara intensif oleh Iran. Perpecahan visi antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak luput dari pengamatan tajam Teheran, yang kini memanfaatkannya sebagai posisi tawar utama di meja perundingan.
Tiga bulan setelah Trump dan Netanyahu bersekutu melancarkan serangan udara masif ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, hubungan kedua pemimpin sekutu tersebut kini berada di titik nadir. Ketika Trump mendesak tercapainya kesepakatan diplomatik kilat demi stabilitas ekonomi domestiknya, Netanyahu justru terus mendorong eskalasi militer di kawasan. Celah inilah yang menurut laporan The Wall Street Journal tengah dijadikan senjata politik oleh Iran.
Ancaman Boikot dan Syarat Mutlak Iran
Langkah taktis Teheran mulai diayunkan secara terbuka pada Senin (1/6/2026). Melalui jaringan media pemerintahnya, Iran secara resmi mengancam akan menarik diri dan meninggalkan meja perundingan dengan Washington. Ancaman boikot ini akan dieksekusi jika militer Israel nekat memperluas jangkauan operasi militernya ke kantong-kantong pertahanan Hizbullah di kawasan selatan Beirut, Lebanon.
Secara sistematis, Iran menetapkan penghentian total pertempuran antara Israel dan Hizbullah sebagai syarat absolut sebelum mereka bersedia memulai pembicaraan draf perdamaian yang lebih luas dengan pemerintahan Trump. Melalui skema ini, setiap agresi militer yang dilakukan Israel terhadap Hizbullah justru akan memberikan alasan kuat bagi Teheran untuk mempersulit, menunda, atau bahkan membatalkan komitmen perundingan nuklir transaksional dengan Amerika Serikat.
Pengakuan Menlu AS Marco Rubio di Hadapan Kongres
Manuver politik Iran yang cerdik ini diakui secara terbuka oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam sesi pemaparan di hadapan Kongres AS pada Selasa (2/6/2026), Rubio membedah motif di balik strategi mencampuradukkan isu domestik dan regional yang dijalankan oleh Teheran.
“Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Iran adalah mengombinasikan dan mengaburkan seluruh isu yang ada menjadi satu paket konflik,” ujar Rubio di hadapan para anggota parlemen.
Rubio juga memaparkan analisis intelijen mengenai target jangka panjang Iran:
- Menggagalkan Stabilisasi Regional: Teheran berupaya keras merusak dan menggagalkan segala bentuk potensi kerja sama atau kesepakatan bilateral antara Israel dan pemerintah Lebanon.
- Mengulur Waktu Konflik: Iran sengaja memperpanjang durasi konflik bersenjata di Timur Tengah agar tensi tetap tinggi.
- Klaim Kemenangan Politis: Strategi mengulur waktu ini bertujuan agar ketika kesepakatan damai dengan AS pada akhirnya tercapai di masa depan, Iran dapat membangun narasi global bahwa merekalah pihak yang berhasil menekan dan memaksa negara-negara Barat untuk tunduk pada persyaratan mereka.
